Medan, 30 Juli 2026 – Program Doktor Ilmu Hadis (PDIH) Fakultas Ushuluddin dan Studi Islam (FUSI) UIN Sumatera Utara melaksanakan kegiatan sosialisasi dan pengabdian kepada masyarakat di dua lokasi secara bersamaan, yakni Kantor Kementerian Agama Kota Tebing Tinggi dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara. Kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen akademik PDIH dalam memperkuat peran perguruan tinggi menjawab berbagai tantangan keagamaan di tengah masyarakat.
Tim pengabdian dipimpin oleh Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama Dr. Uqbatul Khoir Rambe, MA Kaprodi Doktor Ilmu Hadis, Prof. Dr. Ziaulhaq, M.A., didampingi Dr. Adenan, M.A. (Kaprodi Doktor Aqidah dan Filsafat Islam), Dr. Zulkarnain, M.Ag. (Kaprodi Magister Pemikiran Politik Islam), Nur Fadhilah Syam, M.Ag. (Sekretaris Prodi Magister Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir), serta mahasiswa Agung Prayogo, M.Sos .
Di Kantor Kementerian Agama Kota Tebing Tinggi, sosialisasi mengangkat tema “Penguatan Moderasi Beragama di Kalangan Aparatur Sipil Negara Kementerian Agama Kota Tebing Tinggi.” Kegiatan diikuti oleh ASN, penyuluh agama, dan para penghulu dari berbagai kecamatan. Acara dibuka oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Tebing Tinggi, Dr. H. Muhammad David Saragih, S.Ag., M.M., yang menyampaikan bahwa kolaborasi antara perguruan tinggi dan pemerintah diharapkan mampu memperluas wawasan aparatur dalam membangun cara pandang beragama yang moderat, ramah, dan inklusif.


Sementara itu, di MUI Serdang Bedagai, sosialisasi mengusung tema “Penguatan Literasi Keagamaan Berbasis Digital di Kalangan Pengurus MUI Serdang Bedagai.” Ketua MUI Serdang Bedagai, Drs. H. Hasful Huznain, S.H., menyambut baik kegiatan tersebut dan menilai kehadiran tim akademisi UINSU sebagai kontribusi penting dalam meningkatkan literasi keagamaan serta menghadirkan solusi atas berbagai persoalan keagamaan yang berkembang di masyarakat.
Pada kedua kegiatan tersebut, Prof. Dr. Ziaulhaq, M.A. menegaskan bahwa kurikulum Program Doktor Ilmu Hadis terus diperbarui agar mampu melahirkan lulusan yang memiliki perspektif interdisipliner dan responsif terhadap dinamika zaman. Menurutnya, pengembangan keilmuan hadis harus mampu memberikan solusi ilmiah terhadap berbagai persoalan keagamaan, sosial, dan kebangsaan yang dihadapi masyarakat Indonesia.
