Integrasi Sains dan Hadis: Mahasiswa S3 UIN-SU Dalami Ilmu Falak di OIF UMSU

Medan, 1 Juli 2026 – Dalam upaya memperdalam integrasi antara kajian teks agama dan sains modern, lima mahasiswa Program Doktor Ilmu Hadis Fakultas Ushuluddin dan Studi Islam UIN Sumatera Utara (UIN-SU) mengadakan kunjungan studi ke Observatorium Ilmu Falak Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (OIF UMSU).

Kegiatan ini merupakan bagian dari implementasi pembelajaran pada mata kuliah Studi Naskah Hadis yang dibimbing langsung oleh Dr. Arwin Juli Rakhmadi Butar-Butar, M.A. Observasi ini dirancang sebagai media pembelajaran yang memberikan pengalaman langsung kepada mahasiswa dalam memahami hubungan antara kajian hadis dengan perkembangan ilmu falak. Melalui kegiatan lapangan tersebut, mahasiswa tidak hanya memperoleh penguatan konseptual, tetapi juga diperkenalkan pada berbagai instrumen ilmiah yang digunakan dalam observasi astronomi dan penentuan fenomena-fenomena keislaman yang berkaitan dengan waktu dan arah ibadah.

Kegiatan diawali dengan pemutaran video dokumenter yang mengulas sejarah berdirinya Observatorium Ilmu Falak UMSU beserta perjalanan perkembangannya sebagai salah satu pusat kajian astronomi Islam di Indonesia. Dokumenter tersebut juga menampilkan kontribusi para ulama dan ilmuwan Muslim dalam pengembangan ilmu falak sejak masa klasik hingga era kontemporer. Penyajian materi tersebut memberikan gambaran historis mengenai eratnya hubungan antara tradisi keilmuan Islam, perkembangan astronomi, serta implementasinya dalam kehidupan umat Islam.

Setelah sesi pengenalan, mahasiswa memperoleh penjelasan mengenai berbagai perangkat observasi yang dimiliki OIF UMSU. Para peserta diperkenalkan pada fungsi, cara kerja, serta prinsip penggunaan setiap instrumen yang digunakan dalam penelitian ilmu falak. Sebagai bagian dari pembelajaran berbasis praktik, mahasiswa kemudian diberikan kesempatan untuk mengoperasikan secara langsung teleskop surya untuk mengamati Matahari secara aman, instrumen penentuan arah kiblat, alat pengukuran waktu salat, serta sejumlah perangkat astronomi lainnya yang digunakan dalam kegiatan observasi dan penelitian falak.

Kegiatan observasi ini menunjukkan bahwa kajian hadis tidak hanya berorientasi pada telaah tekstual terhadap naskah-naskah klasik, tetapi juga memerlukan pendekatan interdisipliner yang melibatkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Integrasi antara studi hadis dan ilmu falak menjadi salah satu bentuk pengembangan keilmuan yang relevan dengan kebutuhan akademik kontemporer, terutama dalam memahami hadis-hadis yang berkaitan dengan penentuan waktu salat, arah kiblat, awal bulan hijriah, serta berbagai fenomena astronomi yang memiliki implikasi terhadap pelaksanaan ibadah.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa diharapkan mampu memperluas perspektif keilmuan, mengembangkan kemampuan analitis, serta membangun pemahaman yang lebih komprehensif mengenai hubungan antara sumber-sumber ajaran Islam dengan perkembangan sains modern.